Sepagi ini, minimal mendapat 3 inspirasi dari para pemimpin hebat di daerah. Semoga akan diikuti oleh daerah lain atau bahkan pemimpin tingkat nasional. Tak perlu malu untuk belajar dari mereka yang mungkin posisinya lebih bawah.
Kang Ridwan Kamil dengan kebijakannya membuat program Bandung untuk Papua, program sister city antar daerah di Indonesia. Kang RK sendiri pernah mengatakan "bukan saatnya lagi berkompetisi, sudah waktunya berkolaborasi", saat memberikan aplikasi smartcity untuk walikota Banjarmasin, Ibnu Sina pertengahan Mei 2016 lalu.
Langkah kang RK patut ditiru oleh siapapun baik para pejabat pemerintahan atau kepala daerah maupun para penggerak komunitas Kerelawanan. Solusi yang dibuat untuk mengatasi permasalahan selalu tepat sasaran dan jarang terdengar ada polemik di kalangan masyarakat.
Kedua, inspirasi didapatkan dari orang yang saya sebutkan tadi, pak Ibnu Sina walikota Banjarmasin membuat sebuah gebrakan dengan melarang semua pedagang ritel seperti Minimart dan toko modern atau swalayan untuk tidak hanya memberlakukan kantong plastik berbayar, namun dia melarang setiap ritel menyediakan kantong plastik.
Sebagai gantinya, Ibnu Sina mewajibkan semua pedagang ritel menyediakan kantong yang terbuat dari anyaman purun atau anyaman kain dan lainnya. Sudah terbayang, pengurangan sampah plastik akan sangat signifikan dan kebijakan tersebut juga akan membuat multiplier effect bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terlebih bila kantong belanja non plastik diproduksi secara home industri.
Ketiga, inspirasi didapatkan dari gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Setelah tak ada satupun Minimart yang bisa beroperasi di wilayahnya dan juga tak adanya iklan rokok di sana. Irwan Prayitno membuat program Minang Mart, sebuah program untuk kebangkitan ekonomi masyarakat bersama-sama, "Basamo Mangko Bisa".
Program apik yang harus diadopsi oleh daerah lain. Pola Minang Mart yang melibatkan 3 BUMD SumateraBarat akan memberikan andil besar terhadap kesejahteraan masyarakat. Karena program Minang Mart bukan membangun namun mendukung usaha masyarakat yang sudah berjalan untuk diberikan banding dan bantuan modal.
Semoga kami di
Sekolah Relawan maupun komunitas Kerelawanan lainnya bisa membuat program dengan semangat serupa. Membuat program yang menjadi solusi atas permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Bukan hanya menyelesaikan, namun juga membuat masyarakat semakin berkembang dan mandiri.
Itulah kenapa di tahun 2016 ini, Sekolah Relawan dengan mengambil tema "Membangun Kemandirian" dan membangun beberapa unit bisnis. Hal tersebut dimaksudkan untuk bersama-sama memberikan solusi permasalahan Relawan, komunitas Relawan maupun masyarakat sendiri.
Harapannya dengan unit bisnis yang dibangun oleh Sekolah Relawan akan bisa membuat Relawan tajir, komunitas stabil dan masyarakat mandiri juga sejahtera. Akhirnya, gerakan kebaikan yang terus bergulir ini akan membuat kita mampu untuk MEMBELI KEMBALI INDONESIA.